Kedua mataku minus. Awalnya hanya minus 0,75 dan minus 2,5. Tapi karena kebebalan zaman SMA, sekarang jadi minus 1 yang satu lagi minus 3,5. Aku pun dimarahi dan hukumannya adalah aku harus pake kacamata seumur hidup. Hhhh. Asal tahu saja, pake kacamata itu bikin mata capek dan kadang-kadang jadi pusing. Jadi terkadang aku lepas kacamataku dan hanya mengandalkan penglihatanku yang serba blur. Jadi tolong dimaklumi kalau aku ga nyapa kalian duluan kalo ketemu, hehe.
Walaupun blur, aku suka. Ketika berjalan hanya memandang ke depan, tanpa tengok kanan-kiri, lihat sana-sini. Kerumunan orang pun tidak terlihat begitu ruwet karena memang pandanganku sudah blur. Blur! Semua blur, kecuali yang hanya berjarak beberapa meter dariku. Dan aku baru merasa semuanya masuk akal. Dalam melakukan perubahan memang seharusnya begini. Mulai dari diri sendiri, kemudian lingkungan sekitar, baru kemudian ke skala yang lebih luas. Ubah yang ada di diri sendiri dulu, baru orang lain. Seperti yang dibilang salah satu pembicara Gema Inspirasi, “Tidak ada orang pingsan yang membangunkan orang pingsan”. Atau salah satu tweet @juliaperrez, “Sakit mata yang parah ditandai ketika kita lebih jelas melihat kekurangan orang lain daripada kekurangan diri sendiri yang jauh lebih besar” (sumpah, aku ga nge-follow Jupe, tapi liat dari tweet-nya Sudjiwo Tedjo).
Makin kesini, aku makin suka melepas kacamata. Untuk mengistirahatkan mata, sekaligus melihat semuanya dari sudut pandang baru :)
nb: tweet-nya @juliaperrez cukup berisi lho teman-teman :p Cek sendiri!